2012-10-26

Free your mind~

Every seconds in our life, we're thinking and now we're still thinking. There are many picture had been captured in our mind, a lot of sound playing through our ears and variety of feeling circling in our heart. Actually every single person cannot stop theirself to think, am I right? But the ultimate enemy of thinking is --> laziness. Your laziness make your mind stop thinking, your neurons stop connecting which means you'll stop learning and understanding!

The specialist in NLP (Neuro Linguistic Programming) said every people have 100 thousands neurons in their brains-every single people! Thats means : the number of neurons in Mahathir's brains is equal with yours, and also equally with Dato' Najib or Tok Guru or Izzah Anwar or any other people. Does it make sense that you can actually think like their way of thinking? because Allah had gifted us the equal number of neurons! The common lament of malays and maybe muslims.. " I can't think like them, my head will spinning if I'm thinking critically".

 Dear my beloved bro and sis in islam, can't you see the place of islam in the world's view? They had judge us as a weak community, not up-to-date and terrorist! The muslims was dump, they can't have freedom in their thinking. Quran had prohibit us from thinking! The prophet doesn't like with people who asked many question.. we're not like the western people. They had their freedom in thinking, they have their rights in uttering their voice. Are these statement right? Im refering to the ayat in our Holy Quran : Surah Al-Baqarah verse no. 260 :

" Dan ketika Ibrahim berkata 'Ya tuhanku tunjukknlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan org yang mati?, Allah berkata 'tidakkah kamu beriman?', Ibrahim menjawab 'Ya, aku beriman tetapi agar hatiku tenang (mantap)', Berkata Tuhannya 'Ambillah 4 ekor burung dan cincang-cincangkanlah ia, kemudian letakkanlah ia pada setiap bukti satu bahagiannya, kemudian serulah mereka, nescaya mereka akan datang kepadamu dengan segera' Ketahuilah bahawa Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana"

Based on this verse, does Abraham a.s doesn't worshipped Allah when he asked unlogical question (on human's eyes) to Allah? No, he worshipped Allah with his genuine heart, but he only asked the question to convince his believe. This prove that islam does not prohibit it's devotees to ask in order to upgrade their iman! Look what at the way Allah answer His prophet question, He show it on his eyes! Means, humans need prove and something real to believe.

Islam doesn't teach us to become dump, short and closed-minded. Islam taught us to read, "iqra' " the first wahyu from Allah to our prophet, Muhammad s.a.w. We have to widen our area of thinking, accept what is good and reject what is bad for islam even it's come from kuffar. On top of that, we have to celebrate our differences. When we differ in thought with the muslim brotherhood, we have to respect others. As Allah taught us in Quran, chapter an-nisa' , verse 59 "
"kemudian, sekiranya kamu berbeza pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada Allah dan rasul"

That was the best solution. Together we strive to kill our ultimate enemy --> laziness!! Nevertheless, I agreed with the opinion of Prof. HAMKA who said ' the ending of mind is the beginning of religion (islam)' ~hujung akal adalah pangkal agama~



2012-10-16

Mahasiswa, Kepimpinan dan Politik

Saya bagai seekor kancil dalam rimba mahasiswa. Masih seperti bayi kecil yang merangkak untuk memahami erti kemahasiswaan. Dalam kampus kecil yang kurang sentimen kemahasiswaan, saya kira saya masih terlalu kerdil untuk berbicara perihal mahasiswa. Pabila dibandingkan dengan sahabat2 dari usim, uia, ukm mahupun um, mereka lebih faham apa erti hidup sbg mahasiswa.Namun, semua itu tidak akan menjadi penyebab untuk saya menoktahkan tinta saya untuk entri kali ini.

Melalui perhatian saya, mahasiswa kini nampak lebih intelektual dan punya jiwa yg meronta-ronta inginkan kebebasan. Saya juga begitu. Dan sememangnya itu adalah jiwa seorang anak muda. Cuba bayangkan, seandainya semua anak muda berjiwa warga emas, apa akan jadi pada negara kita?

Menyoroti sejarah negara, sememangnya mahasiwa punya peranan penting dalam negara. Taktala perbalahan Kaum Tua dan Kaum Muda dulu, mahasiswa berada dalam kelompok Kaum Muda. Kaum yg inginkan pemurnian kepada ajaran islam yg lebih terbuka dan tidak jumud. Dr. Burhanuddin al-Helmi, anak kelahiran kedah merupakan salah satu tokoh Kaum Muda. Pada hakikatnya, Kaum Muda ini dicetuskan oleh golongan mahasiswa yg belajar di timur tengah dan menuruti pandangan Syeikh Muhammad Abduh dan Syeikh Jamaluddin al-afghani. (kalau salah betulkan saya)

Taktala saya dan sahabat memegang tampuk kepimpinan sekolah dahulu, kami (2 @ 3 org je sbnrnye) bersikap agak radikal (tp rasional) terhadap segelintir guru dan alumni. Sehinggakan pernah suatu ketika saya mempertikaikan program dari alumni yg saya kira tidak berfaedah kepada anak buah kami. Kakak yg saya marahi itu, agak terkedu dan hingga kini kami akan tergelak apabila bertemu. Suatu ketika (selepas spm) saya bersama alumni menjalankan prog. di sebuah sekolah. Saya mengulang kembali kata maaf apabila bertemu dgn kakak tersebut, namun ada sesuatu yg menjentik hati dan ingin dihighlightkn disini ialah kata2 kakak tersebut. " Dulu akak pun sama macam awak, jadi pimpinan supaya orang nampak kita hebat. Berlumba2 bwt prog yg terbaik dari pimpinan lepas, tapi lepas akak da mule keje ni baru akak nampak hadaf memimpin tu, bukan untuk manusia",  Kali ini, saya pula yg terkedu dan terkelu untuk berkata. 'Betul juga apa yg akak ni katakan'.

Mahasiswa dan kepimpinan! Saya lihat sudah ramai mahasiswa yg terlibat dengan kepimpinan, terutamanya mahasiswa berbangsa melayu. Dan kepimpinan di kampus pula, tidak dapat lari dari percaturan politik. Sehinggakan Bro Shahkirit Kalkulal Govindji kata " Orang melayu pergi ke universiti, ramai yang ghairah pada politik, bukan fokus pd pelajaran" (opss.. nampak pedas disitu). Namun, pandangan seorang kakak SIGMA (xigt post die) kak Wani "Saya lebih setuju keghairahan mahasiswa itu diletakkan pada tempat yg bermanfaat. cthnya : membela kebajikan mahasiswa". Ikhtilafu rahmah.

Pada sisi saya sendiri, amatlah bersetuju mahasiswa terlibat aktif dalam kepimpinan dan politik kekampusan. Kerana, amat jelas kesan dan faedah yg diperoleh dan dipelajari semasa menjadi pimpinan. Namun, keghairahan yg melampau, bukan sahaja membawa kesan negatif tetapi juga memperlihatkan kecetekan akal mahasiswa itu sendiri. Sekiranya matlamat utama kepimpinan kampus adalah semata-mata membela kebajikan ahli, maka itu bukanlah jiwa seorang mahasiswa islam. Percaturan politik kekampusan juga berbeza bg setiap kampus. Mana mungkin menyamakan percaturan di UM dengan percaturan di DQ. Suasananya berbeza, orangnya berbeza dan subjeknya berbeza.

Sebagai seorang mahasiswa islam, saya kira mahasiswa perlu cepat matang dalam tindakan dan percakapan. Tidak mengapa menjadi sedikit gila-gila tapi rancangan yg gila2 itu adalah hasil dari pemikiran yg matang dan rasional. Mungkin ada yg berpendapat isu yg saya bahaskan ini adalah isu 90-an, tapi bukankah tazkirah itu bermanfaat bagi org2 beriman. Seperti yg saya ungkapkan di awal perbincangan, saya hanyalah kancil kecil di rimba kemahasiswaan. (^_^)